Selasa, 15 Januari 2013

Filsafat dapat Menumbuhkan Pemikiran Radikal


Filsafat dapat Menumbuhkan Pemikiran Radikal
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu (Pengampu: Prof. Marsigit)
Camalina Sugiyarti
(12708251078/Psn D)
PPs UNY
2013

Pemikiran radikal adalah pemikiran yang out the box, pemikiran maju atau on the future, pemikiran visioner, pemikiran yang berbeda dari yang lain, dan pemikiran yang jauh ke depan, sehingga kadang dirasa aneh karena tidak biasa. Tokoh-tokoh hebat dalam sejarah banyak yang memiliki pemikiran radikal. Mungkin pada masanya mereka dianggap gila atau tidak waras dengan pemikirannya, dan bahkan ada yang dihukum mati karena pemikirannya. Namun nyatanya pemikiran mereka terbukti benar puluhan atau bahkan ratusan tahun setelahnya. Pemikiran radikal ini dapat melahirkan karya-karya berupa teori, rumusan, prinsip, atau hukum yang luar biasa.
Orang-orang yang memiliki pemikiran radikal adalah orang-orang yang kritis dan peka, sangat peduli dengan keadaan di sekitarnya. Mempunyai pemikiran yang kritis adalah salah satu syarat seseorang dalam berfilsafat. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa dengan kebiasaan berfilsafat, menerjemahkan dan diterjemahkan, maka dapat menumbuhkan pemikiran radikal. Salah satu tokoh yang terkenal dengan pemikiran yang radikal adalah Galileo Galilei.
Galileo Galilei, lahir di Pisa, Toscana, 15 Februari 1564 dan meninggal di Arcetri, Toscana, 8 Januari 1642 pada umur 77 tahun, adalah seorang astronom, filsuf, dan fisikawan Italia yang memiliki peran besar dalam revolusi ilmiah. Sumbangannya dalam keilmuan antara lain adalah penyempurnaan teleskop, berbagai pengamatan astronomi, dan hukum gerak pertama dan kedua (dinamika). Selain itu, Galileo juga dikenal sebagai seorang pendukung Copernicus mengenai peredaran bumi mengelilingi matahari.
Akibat pandangannya yang disebut terakhir itu ia dianggap merusak iman dan diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. Pemikirannya tentang matahari sebagai pusat tata surya bertentangan dengan ajaran Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta. Ia dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya. Baru pada tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II menyatakan secara resmi bahwa keputusan penghukuman itu adalah salah, dan dalam pidato 21 Desember 2008 Paus Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja Katolik Roma merehabilitasi namanya sebagai ilmuwan.
Menurut Stephen Hawking, Galileo dapat dianggap sebagai penyumbang terbesar bagi dunia sains modern. Ia juga sering disebut-sebut sebagai "bapak astronomi modern", "bapak fisika modern", dan "bapak sains". Hasil usahanya bisa dikatakan sebagai terobosan besar dari Aristoteles. Konfliknya dengan Gereja Katolik Roma (Peristiwa Galileo) adalah sebuah contoh awal konflik antara otoritas agama dengan kebebasan berpikir (terutama dalam sains) pada masyarakat Barat.
Itulah sepenggal kisah kehidupan seorang yang mempunyai pemikiran radikal, Galileo. Dia harus menanggung hukuman pengucilan sampai akhir hayatnya atas pemikirannya yang radikal tersebut. Namun pada akhirnya Galileo dipuja-puja sebagai sebagai "bapak astronomi modern", "bapak fisika modern", dan "bapak sains" juga karena pemikirannya yang radikal.
Referensi:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar