Rabu, 12 September 2012

Pertanyaan Mahasiswa kepada Sang Dosen


Adab BerfAdilsafat
Refleksi Kuliah Filsafat Ilmu (Pengampu: Dr. Marsigit)
Camalina Sugiyarti (12708251078/Psn D)
PPs UNY
2012

Mendengar kata “filsafat” yang ada di benak saya adalah sesuatu yang memerlukan pemikiran tingkat tinggi. Setelahmengikuti  kuliah perdana mata kuliah filsafat ilmu ternyata filsafat sekedar olah pikir. Sehingga dalam berfilsafat ada hal yang harus dikontrol.Objek filsafat adalah sesuatu yang ada atau mungkin ada. Hal yang dianggap sepele pun bisa difilsafatkan, misalkan filsafat semut. Berfilsafat merupakan hal normatif yang memerlukan adab.
Adab pertama dalam berfilsafat adalah “teguhkan hatimu”. Sebelum kita mulai berfilsafat kita harus yakin dengan keyakinan yang ada di dalam hati kita sebelumya, misalnya saya yakin bahwa Tuhan Yang Esa itu benar-benar ada. Ketika kita mulai berfilsafat  mengenai apapun itu, filsafat cinta, filsafat hidup, filsafat fisika, filsafat dunia, dan bahkan filsafat filsafat maka pemikiran atau logika kita mulai bekerja. Sehebat apapun logika, sehebat apaun ilmu yang dimiliki oleh seseorang, seorang yang jenius sekalipun, pemikiran ada batasnya. Jika kita memikirkan sesuatu dan kita tidak dapat memecahkannya dengan logika, maka kembalikan masalah tersebut pada hati. Karena sehebat apapun logika tidak akan pernah bias mengetahui isi relung hati orang lain, bahkan diri kita sendiri.
Kenapa kita harus mengembalikan suatu masalah ke hati? Bukankah akan lebih baik jika terus memikirkan solusinya dengan logika? Nah, disinilah mengapa berfilsafat perlu dikontrol, karena jika lepas kendali itu justru tidak sesuai dengan hakikat filsafat itu sendiri. Posisi berfilsafat atau normatif dapat dilihat dalam bagan seperti berikut ini:


 





              
Materi dan formal merupakan objek filsafat. Formal contohnya adalah undang-undang, pancasila, atau aturan-aturan tertulis lainnya. Sedangkan filsafat memasuki posisi normatif, dimana aturan-aturan tersebut berlaku secara umum namun walaupun tidak tertulis. Seperti bersuci terlebih dahulu sebelum memasuki masjid, tata karma, sopan santun, dan lain sebagainya. Dan yang menduduki posisi paling tinggi adalah spiritual, yaitu hati. Inilah alas n mengapa kita kembalikan suatu permasalahan yang sudah tidak bisa dijangkau oleh pemikiran kita ke hati.
Adab kedua dalam berfilsafat adalah “luruhkan” , luruhkan ego dalam pikiranmu, luruhkan sombong dalam hatimu. Semua yang ada di jagat raya ini tidak ada yang sempurna. Sehebat apaun dirimu, ada saja sesuatu yang tidak bisa engkau ketahui.  Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan rumus fisika atau matematika, dengan  teori-teori yang luar biasa, atau bahkan teknologi mutakhir sekalpun. Disinilah peran besar spiritual.
Sayangnya di era sekarang keberadaan spiritual semakin tertekan dengan adanya modernisasi. Saat ini kita hidup di era ekonomi, politik, dan teknologi yang sedang menguasai dunia. Hampir seluruh umat manusia menentukan tujuan hidupnya pada ketiga hal tersebut, hingga banyak yang mengabaikan spiritual.
Agar kita berfilsafat sesuai dengan hakikat filsafat itu sendiri maka alangkah baiknya jika kita memperhatikan adab-adab dalam berfilsafat, yaitu “teguhkan hatimu” dan “luruhkan egomu”. Dengan berfilsafat kita semakin menghargai spiritual, bukan sebaliknya.

Pertanyaan:
1.      Saat ini merupakan era pendidikan (bukan lagi zaman kebodohan) , tapi mengapa semakin banyak orang yang meninggalkan spiritual?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar